Meradjoet Sendja, Sebuah Jalan Berbagi untuk Pekerja Seni


Pementasan Teater Meradjoet Sendja oleh Dompet Dhuafa dan PARFI 56
Pementasan Theater Meradjoet Sendja Dompet Dhuafa Parfi 56


Halo Teman-teman. Apa kabar kalian hari ini? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan penuh semangat ya.

Menjelang tanggal 17 Agustus gini, biasanya lingkungan sekitar kita langsung mendadak riuh dan penuh warna, ya? Mulai dari sibuk siapin pendaftaran lomba 17-an, ikut repot jadi panitia agustusan di komplek, sampai kumpul bareng warga di acara tasyakuran malam kemerdekaan. Seru banget kan rasanya? Suasana-suasana seperti itu selalu berhasil bikin kita ngerasa dekat dan bangga jadi bagian dari negeri ini.

Ngomongin soal kemerdekaan, 14 Agustus 2026 lalu saya berkesempatan hadir dalam Dialog Kebangsaan dan Konferensi Pers Pementasan Teater Meradjoet Sendja. Acara yang diselenggarakan Dompet Dhuafa dan Parfi 56 di Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan ini merupakan sebuah panggilan untuk memaknai kembali kemerdekaan di hari lahirnya yang ke 81 tahun. 

Hmmm, apakah di usianya yang ke-81 ini, Indonesia sudah benar-benar seperti yang dicita-citakan dulu?

Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya tentu tidak sederhana.

Titik Balik Olivia Zalianty dan Lini Kreatif Teater

Olivia Zalianty Parfi 56
Olivia Zalianty - Sutradara & Producer Meradjoet Sendja

Bicara soal pementasan teater ini, ada sosok luar biasa di baliknya. Di PARFI 56, Olivia Zalianty menjabat sebagai Pengurus Divisi Sosial. Nah tidak tanggung-tanggung, dalam Meradjoet Sendja, ia memegang peran ganda sekaligus sebagai produser dan sutradara.

Menariknya, pementasan megah ini juga menjadi momen yang sangat spesial bagi dirinya. Setelah sempat vakum selama lima tahun dan berfokus penuh menjadi seorang ibu, proyek ini menjadi titik balik kembalinya ia ke dunia seni peran dan panggung kreatif.

Saat konferensi pers, Olivia sempat berbagi cerita bahwa penggarapan teater ini ibarat merangkai puzzle-puzzle pikiran para pendiri bangsa untuk dijahit bersama kembali. Ia juga mengungkapkan betapa menantangnya proses penggarapan ini, termasuk ketika mencari aktor yang tepat untuk memerankan tokoh Bung Soekarno—bukan hal yang mudah untuk mencari figur yang bisa merepresentasikan kedalaman karakter sang Proklamator.

Mengenal Siti Soendari dan Sisi Historis yang Menggelitik

Marcella Zalianty
Marcella Zalianty - Executive Producer pemeran Siti Soendari


Selain itu, ada satu hal lagi yang menarik perhatian waktu sesi presscon. Kita diperkenalkan dengan sosok Siti Soendari, tokoh yang mungkin belum banyak dikenal orang luas.

Marcella Zalianty bertindak sebagai produser eksekutif sekaligus pemeran Siti Soendari. Tokoh ini memiliki latar belakang yang luar biasa; ia sangat piawai berbahasa Belanda serta Jawa Kromo Inggil (Jawa halus) saat Kongres Pemuda II, dan kemudian berpidato menggunakan bahasa Indonesia pada Kongres Perempuan di Yogyakarta tahun 1928.

Mengingat rentang waktu sejarahnya yang cukup panjang sebelum menuju Proklamasi Kemerdekaan 1945, Siti Soendari dihadirkan di awal pementasan dalam bentuk monolog selama lima menit. Kehadirannya di awal sengaja dipilih karena rentang jarak waktu sejarahnya tidak berdekatan langsung dengan dinamika tokoh-tokoh utama kemerdekaan di babak-babak berikutnya, sehingga menjadi pembuka yang sangat kuat untuk mengantar penonton masuk ke dalam pusaran sejarah.

Selain itu, ada banyak sisi historis yang bikin penasaran. Yudi Latif, sang inisiator dan penulis naskah yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina Dompet Dhuafa, sempat melontarkan pertanyaan menggelitik: apa sebenarnya yang dibicarakan oleh Tan Malaka kepada Soekarno selama setengah jam di detik-detik menjelang kemerdekaan, tepat saat lampu dimatikan? Kemudian, siapa yang memberi perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka? 

Harmoni Musik dan Renungan Kebangsaan

Yudi Latif Pengarah dan Penasehat Meradjoet Sendja
Ki-ka : KGPH Ndaru Kusumo - Yudi Latif (Penasehat dan Pengarah Meradjoet Sendja) 


Teater Meradjoet Sendja ini murni merupakan hasil buah renungan mendalam dari Yudi Latif. Ceritanya dibagi ke dalam lima babak yang memotret perjalanan bangsa, mulai dari Sumpah Pemuda hingga dinamika para pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka.

Yang bikin merinding, nuansa kebangsaan di dalam teater ini tidak hanya disampaikan lewat dialog, tapi juga lewat gubahan musik yang megah. KGPH Ndaru Kusumo bahkan mengaransemen teks Pancasila menjadi sebuah lagu orkestra yang megah dan menyentuh hati. Bayangin saja, mendengarkan nilai-nilai dasar negara dilantunkan lewat orkestra di Gedung Kesenian Jakarta nanti—pasti suasananya magis banget!

Dompet Dhuafa dan PARFI 56: Salurkan Social Fund untuk Pekerja Seni

Nah, acara ini tidak hanya berhenti pada pertunjukan seni yang megah, Teman-teman. Ada misi kemanusiaan yang besar di baliknya.

Dompet Dhuafa PARFI 56


Sejak tahun 2024 lalu, Dompet Dhuafa dan PARFI 56 telah menjalin kerja sama melalui program Social Fund. Spesial untuk pementasan Meradjoet Sendja ini, seluruh hasil penjualan tiket akan didedikasikan sepenuhnya untuk program Social Funds tersebut.

Buat yang belum tahu, Dompet Dhuafa adalah lembaga filantropi Islam yang mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial lainnya melalui berbagai pilar program, mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga sosial kemanusiaan, demi memberdayakan kaum dhuafa secara berkelanjutan.

Yang membuat langkah ini sangat berarti adalah peruntukan dananya. Kali ini, Social Fund tersebut difokuskan untuk membantu masyarakat dhuafa serta para pekerja seni dan budaya yang sudah sepuh atau sedang sakit keras.

Bahkan, baru-baru ini tim Dompet Dhuafa dan PARFI 56 telah membuktikan aksi nyata mereka dengan mengupayakan pengobatan terbaik bagi Fahmi Bo, seorang aktor senior yang tengah berjuang melawan penyakit diabetes dan pengapuran tulang hingga kesulitan berjalan. Langkah nyata seperti inilah yang membuktikan bahwa seni dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan untuk menyelamatkan sesama.

Social Funds Dompet Dhuafa & PARFI 56
Social Funds Dompet Dhuafa & PARFI 56


Jangan Sampai Kelewatan!

Nonton teater ini bukan sekadar duduk manis menikmati alur cerita sejarah yang deep, tapi kita juga ikut berdonasi dan merawat para seniman yang pernah mendedikasikan hidupnya untuk Republik ini.

Pementasan Meradjoet Sendja akan diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta pada 26 Agustus 2026. Tiketnya sudah bisa dipesan secara online dengan berbagai pilihan kategori, mulai dari Silver, Gold, Platinum, hingga VIP.

Yuk, kita ramaikan dan jadikan momen ini sebagai bentuk cinta nyata kita untuk seni, sejarah, dan kemanusiaan. Semoga langkah ini tidak berhenti di momen peringatan hari kemerdekaan bulan Agustus saja, tapi justru menjadi titik awal kita untuk terus berbagi. Sampai ketemu di sana ya!

Tidak ada komentar