Menuju Indonesia Maju Melalui Peningkatan Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Bareng perempuan hebat Indonesia, Menlu Retno Marsudirini


Teman-teman, sebentar lagi, kan, kita memperingati hari Ibu. Bahas dunia perempuan, aja yuk. 

Eimm, tapi jujur saya bingung mau mulai dari mana. Kalau melihat ibu Susi Pudjiastuti mantan Menteri Kelautan dan Perikanan atau ibu Retno Marsudirini sebagai Menteri Luar Negeri RI kita pasti bangga dong melihat sosok perempuan hebat seperti beliau. Tegas tapi selera humornya keren banget. Mungkin saat ini Kartini tersenyum. Berkat kegigihannya, saat ini perempuan lebih dihargai secara harkat dan martabat. Alhamdulillah.

Namun tak bisa dimungkiri, di era globalisasi ini masih banyak, lho, perempuan dan anak-anak yang merasakan penindasan dan perlakuan tak adil. Kebiasaan lama para lelaki yang menganggap perempuan hanya sekedar property bukan sebagai partner semakin menambah belenggu ketertindasan. Sedih aku tuuu... 

Dalam diskusi Vivatalk bareng KPPA tanggal 3 Desember 2019 silam di Hotel Millenium Kebon Sirih Jakarta Pusat beruntung saya menghadiri diskusi tentang perempuan dan perannya. Mengambil tema Perempuan Berdaya Indonesia Maju dan Perempuan Di Era Digital hadir narasumber-narasumber berikut : 

1. Ibu Gusti Ayu Bintang Darmawan - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang tak bisa datang dan digantikan dengan bapak Indra Gunawan - Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia

2. Bapak Henky Hendranantha - Chief Operating Officer (COO) VIVA Networks

3. Bapak Eko Bambang Sudiantoro - Chief of Research at Polmark dan Aliansi Laki-laki Baru

4. Ibu Dr. Sri Danti Anwar - pakar gender

5. Ibu Diajeng Larasati - Founder dan CEO HIJUP




Dalam konteks pembangunan, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sejatinya sangat erat kaitannya dengan memperbaiki kualitas generasi berikutnya. Karena tantangan KPPA sampai saat ini masih muter-muter pada tingginya angka perkawinan anak, tingginya kematian ibu, stunting, kelaparan, ruang hidup tergusur, juga masalah pada buruh imigran. 

Jujur kalau membayangkannya saya sangat sedih membayangkan nasib perempuan-perempuan yang tak seberuntung saya. Misalnya diintimidasi dengan kalimat berikut : 

"kamu harus nurut sama saya, karena kamu, kan, perempuan."

"Udahlah kamu ga usah kuliah. Sebagai perempuan kan tugas kamu hanya mengasuh anak."

"Hei bangsat, jangan asal bicara kamu. Aku ini laki-laki."

Atau sebaliknya, lelaki yang diintimidasi perempuan dengan tudingan berikut :

"Tuh lelaki ngoceh mulu, kaya cewe aja," 

"Woy lelaki koq nangis. Cengeng amat,"

Secara konstruksi sosial, inilah yang sering merusak pemahaman kita tentang seharusnya dan tidak seharusnya. Padahal kalaupun dia lelaki ya apa salahnya toh menggunakan mulutnya untuk bicara, sah-sah aja kan? 

Mari kita samakan mindset yuk. Kesetaraan gender adalah bentuk kepedulian baik untuk lelaki maupun perempuan. Bagaimana di posisi perempuan bisa terpenuhi segala haknya dan bagaimana di posisi lelaki bisa menjadi pihak yang adil dan bijak dalam bertindak. 

Feminisme bukan tentang usaha mau menyaingi lelaki. Tujuannya ialah bagaimana mendapat peluang dan kesempatan yang sama seperti lelaki, jadi bukan mau mendominasi. Karena orientasi kesetaraan kan konsepnya keadilan, betul apa betul?

Nah dalam pendidikan, kita ambil contoh, perempuan sebenarnya berhak mendapat kualitas pendidikan yang setara dengan lelaki. Sedih makanya kalau ingat ada beberapa daerah yang tak memperbolehkan perempuan sekolah dan malah dipaksa menikah muda. 

Kemudian dalam karir, perempuan berhak mendapat kesempatan sama dengan lelaki berdasarkan kemampuannya. Yang ada sekarang masih banyak kaum perempuan yang menerima upah lebih kecil dari lelaki dan porsi beban kerjanya justru lebih banyak. Atau kalau mau mendapat posisi basah dia harus mau tidur dengan atasannya. Duuh... 

Dalam lingkungan dan masyarakat sejatinya perempuan berhak mendapat keamanan yang sama dengan lelaki. Yang ada sekarang kalau orang melihat perempuan pulang malam dibilang perempuan ga benar. Eim, andaikanpun benar bekerja sebagai pekerja seks komersial, plis deh kalau di luar jam kerjanya seharusnya juga tidak boleh dilecehkan. 


Kembali ke tantangan KPPA, kalau teman-teman baca tulisan-tulisan saya pasti tau ya alasan Kemenkes giat mensosialisasikan pentingnya 1000 Hari Pertama Kelahiran Anak. Karena perempuan adalah madrasah pertama bagi hidup anak-anaknya. Anak yang memiliki bayangan mau jadi apa ke depannya tentu ga akan terpikir untuk kawin muda. Dirinya sudah punya role model dan tak lagi berpikir untuk kawin muda hanya karena lantaran faktor ekonomi atau terhasut kampanye menyesatkan yang mengajak kawin muda lebih baik daripada zina. Soal rezeki urusan Allah. 

Yup, begitulah yang terjadi... 

Ingat, perempuan ketika memasuki usia remaja, bodynya memang sudah tumbuh seperti perempuan dewasa tapi otak dan organ dalamnya tetap masih anak-anak. Miris kalau kawin muda yang diiringi kehamilan. Faktor resiko komplikasinya berbahaya bagi si ibu maupun janinnya. Jauh ke depannya, berhubungan sex di usia muda menjadi faktor penyebab kanker serviks. Kanker serviks dan kanker payudara sampai detik ini belum ada obatnya dan menjadi beban negara. 

Tuh, kan, saya jadi melantur. 

Untuk itu Pak Hengki berpesan agar perempuan Indonesia mempunyai keterampilan, wawasan, dan ilmu pengetahuan supaya tidak tertinggal dalam pembangunan. Sebagai madrasah pertama anak, perempuan Indonesia memiliki peranan yang sangat vital dalam keluarga untuk mendidik anak-anaknya, menjadi perempuan tangguh dan memiliki literasi digital agar mampu bersaing di era teknologi sesuai bakat, minat dan kemampuannya. Siyaaap pak!

Pak Indra Gunawan menuturkan hal senada bahwa dalam perannya di lingkungan, kontribusi perempuan tidak bisa disepelekan. Di ekonomi mikro UMKM, justru kontribusi terbesar berasal dari kaum perempuan. Sayangnya, hal mereka hanya berjalan sekedarnya saja, karena tidak ada bantuan dana modal. Umumnya mereka juga tidak punya rekening Bank, dan kesulitan mendapatkan informasi tentang produk atau pasar dan akses pelatihan keterampilan untuk meningkatkan produk.

Rebranding UMKM itu penting dilakukan mengingat sekarang ini kita hidup di era digital. Seperti yang dilakukan Diajeng Larasti founder HIJUP. Dirinya sukses membidik fashion muslim e commerce.  Menurutnya, latar belakang memilih usaha fashion muslim dikarenakan negara kita notabene merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Tapi kenapa Indonesia malah menjadi negara konsumen tertinggi bukannya sebagai produsen?




Meskipun dirinya adalah istri founder Bukalapak tapi dirinya tak mau mendompleng nama besar suami. Suaminya malah mendukung Diajeng dalam mengembangkan HIJUP sampai bisa seperti sekarang. Nah, inilah yang seharusnya diperjuangkan para perempuan di manapun. Budaya patriarki yang masih eksis di daerah tertentu membuat sempit ruang gerak perempuan, dan itu adalah salah satu dari banyaknya tantangan besar yang harus dilawan supaya kesetaraan bisa diterapkan dengan nyata. 

Penutup, sebentar lagi kita memperingati hari Ibu yang ke-91. Semoga kita semua memaknai hari ibu bukan sebagai perayaan tapi juga tonggak emansipasi dalam memperjuangkan kemerdekaan. Semoga dari tulisan sederhana ini bisa membagikan semangat kepada banyak perempuan untuk dapat memberdayakan dirinya sendiri dan bisa makin maju dari hari ini. 



Ada pesan dari pak Indra, di era digital kita perlu mengantisipasi perubahan jaman. Ini adalah kesempatan emas bagi perempuan untuk berbisnis digital. Tapi perlu diwaspadai, mentang-mentang di rumah online terus sampai-sampai anaknya jadi terabaikan. Ada usulan yang berkaitan dalam upaya perlindungan anak kalau dalam bisnis digital maksimal empat jam dalam sehari. "Kalau bisnisnya bagus dan berkembang, segera pakai asisten agar waktu berkualitas untuk keluarga tetap menjadi prioritas."

"Jangan biarkan mereka mengatakan kalau kamu lemah, tidak capable, tidak cantik, ga layak dicintai dan lain sebagainya. Sejatinya mereka cuma takut dengan wanita atau siapapun yang punya keyakinan teguh atas dirinya sendiri," ~ Sujiwo Tedjo 

No comments