Wujudkan SDM Unggul Melalui Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019



Teman-teman, kapan terakhir kali kamu ke perpustakaan? Kalau saya baru aja main ke perpustakaan Kemendikbud pada 30 November 2019 silam. Ini adalah kunjungan pertama saya ke perpustakaan yang berada di lingkungan Kemendikbud, Senayan, Jakarta. 

Jujur, saya baru tahu lho kalau Kemendikbud punya perpustakaan yang nyaman dan designnya kekinian banget. Padahal perpustakaan ini sudah hadir sejak tahun 2004 🙈





"Yang terbaru adalah Sistem Integrasi Koneksi Perpustakaan. Disini kita bisa berselancar mencari lebih dari 203.000 koleksi dalam bentuk buku fisik dan 11.000 buku digital yang diterbitkan Kemendikbud. Untuk koleksi yang diterbitkan Kemendikbud kita bisa mendonloadnya," jelas pak mas Anang - Moderator acara. 

Dan yang bikin envy, saya baru tahu kalau kunjungan saya dan teman-teman Blogger ke Perpustakaan Kemendikbud adalah hari terakhir gelaran Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019. Wah sayang sekali, informasinya sayup-sayup pun ga sampai ke telinga saya. Padahal selama lima hari, dari tanggal 25 - 30 Oktober ada banyak kegiatan menariknya, lho! Ada workshop, seminar, talkshow, diskusi, putar film dan nonton bareng, mendongeng dan short Class SLiMS. Semuanya gratis, gaesss!!! 😭




FYI, SLiMS adalah singkatan dari Senayan Library Management System. Sebuah sistem automasi perpusakaan sumber terbuka (open source) berbasis web yang pertamakali dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan Kemendikbud. Aplikasi ini digunakan untuk pengelolaan koleksi cetak dan terekam yang ada di perpustakaan. Membantu banget nih buat para pustakawan biar kerjanya lebih efisien. 

Dalam rangka Ulang tahunnya yang ke 15 Perpustakaan Kemendikbud menggelar kegiatan literasi Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019. Tema yang diangkat kali ini "Kolaborasi Perpustakaan dan Komunitas Untuk Mewujudkan SDM Unggul". Ini sangat relevan dong dengan slogan Ulang Tahun Indonesia ke-74 lalu, "menuju Indonesia Unggul" atau "SDM Unggul Indonesia Maju".  Nah, lantas apa yang perlu dilakukan agar SDM kita mampu bersaing dengan negara lain? 


Ki - ka : pak Hasan Chabibie,  pak Ade Erlangga, mas Anang


Dalam temu Blogger yang concern di bidang literasi dan pendidikan hadir narasumber : 

1. Ade Erlangga - Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) yang mengangkat materi tentang pendidikan karakter sebagai gerakan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa. 

2. Hasan Chabibie - Kepala Pustekkom sebagai narasumber utama yang mengangkat materi tentang Inovasi Digitalisasi Sekolah Menggunakan Portal Rumah Belajar 

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER 
Bicara soal problem pendidikan ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Mulai dari masyarakat, guru, sekolah dan anak didik. Nah, cara mengatasinya dengan membangun kesadaran diantara kita semua para pelaku pendidikan. 

Menurut pak Ade Erlangga, untuk mencapai pendidikan yang baik, kuncinya adalah karakter. Memang infrastruktur tol langit itu baik sebagai penunjang.  Namun kalau melihat sekolah yang fasilitasnya serba terbatas seperti di Film Laskar Pelangi itu juga bisa menghasilkan pendidikan yang hebat. Siapa yang berperan? Guru.

Namun sayangnya, ada kesalahan dalam dunia pendidikan - baik di negara kita maupun luar negeri. Kapitalisme jadi menguasai pendidikan itu sendiri. Sekolah bayarnya mahal. Kalau sekolah di tempat yang bagus, yang favorit, diharapkan saat lulus bisa kerja di instansi dan perusahaan terbaik. Sebaliknya, anak yang tidak sekolah akan terpinggirkan. Ironis bukan? 

Padahal, belajar bisa di mana saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Tak harus dengan guru matematika untuk belajar matematika. Siapapun yang bisa mentransformasikan pengetahuannya, yang bisa membangkitkan curiosity anak, yang bisa membangun self concept pada anak, dan mengenalkan reference grup sebagai role model itulah guru sesungguhnya. 



Pesan pak Ade, jadi kalau anak banyak bertanya jangan dianggap kurang ajar. Justru dengan banyak bertanya, sesungguhnya naluri keingintahuannya muncul. Nah inilah yang harus terus digali oleh pelaku pendidikan, baik orang tua maupun guru. Karena nanti kalau anak ditanya, mau jadi apa cita-citanya, ia sudah punya jawaban. Karena ia sudah punya gambaran di kepala dari reference grup yang diberikan gurunya. 

Penguatan pendidikan karakter memang tidaklah mudah. Butuh waktu lama. Sebagai ujung tombak di sekolah, peran guru tidaklah bisa dianggap enteng. Guru harus terus mengupdate pengetahuan seiring perkembangan jaman. Yang namanya nyambi ngajar dan membolos harus dihindari. Yang namanya memberi salinan jawaban saat ujian harus dihindari. Itu menjadi contoh pendidikan karakter yang tidak benar pada anak. 




DIGITALISASI SEKOLAH MENGGUNAKAN PORTAL RUMAH BELAJAR

Bicara soal karakter sama seperti halnya membicarakan fungsi pisau. Kalau digunakan untuk masak, manfaatnya positif. Tapi kalau digunakan untuk nodong, manfaatnya negatif. Sebab itu karakter atau adab penting berada di depan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berada di depan amal atau aktivitas yang kita lakukan sehari-hari. Bukan sebaliknya. Kalau diibaratkan dengan bangunan, sekuat apapun akan rubuh seketika kalau tidak dilandasi ilmu. 

"Itu sebabnya karakter dan ilmu adalah satu line yang tidak bisa dipisahkan, " jelas pak Chabibie. 

Untuk mencapai Indonesia maju memang tidaklah mudah. Namun negara kita sedang berproses mencapainya. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). 




Isinya sebagai berikut : PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggung jawab. 

Penguatan Pendidikan Karakter bukan tanggung jawab satu pihak. Meskipun ada di bawah satuan pendidikan namun diperlukan sinergi dengan orang tua dan masyarakat. Kalau kata Bill Gates, Technology is just a tool in terms of getting the kids working together dan motivating them, the teacher is the most important. 

Terjemahan bebasnya kira-kira begini. Teknologi tak akan mampu menggantikan peran guru. Tapi guru yang tak mau belajar pasti akan tergantikan dengan teknologi. Eranya sudah tak bisa ditolak. Ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk kolaborasi dan kerja bareng dengan siswa didiknya. Misalnya dengan tak membiasakan memberikan sontekan jawaban saat ujian. Bagaimana generasi mau maju kalau begitu.
Oh ya, teman-teman ada yang ingat ucapan Ali Bin Abu Tholib berikut? 

"Didiklah anak-anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka akan hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu." 

Dari hadits tersebut jelas kalau ilmu bersifat dinamis. Berubah-ubah sesuai perkembangan jaman. Dulu mana kepikir kan kalau semua hal bisa dilakukan dalam genggaman tangan. Mau makan tinggal pesen Go food, mau pergi tinggal pesen Gojek, rumah kotor tinggal pesen Go Clean (kode ah buat mas menteri Kemendikbud 😉) 



Kita tidak bisa membayangkan tiga puluh tahun mendatang anak-anak kita akan hidup di dimensi teknologi seperti apa. Contohnya, pekerjaan yang dulu diminati misalnya jadi penjaga tol karena pegang uang terus sekarang telah digantikan dengan e-money. See, pekerjaan yang sekarang diminati pun belum tentu ada di masa mendatang. 

Jika tidak percaya mari kita baca data yang dilansir World Economic Forum, 2016 bahwa : 

1. Dalam lima tahun ke depan akan ada hilangnya 5 juta pekerjaan diambil alih oleh mesin dan robot. 

2. Profesi yang paling banyak dibutuhkan saat ini adalah pekerjaan yang 5 sampai 10 tahun lalu belum ada.

3. Diperkirakan 65% anak-anak yang masuk sekolah dasar saat ini akan bekerja pada suatu pekerjaan yang benar-benar baru dan belum ada saat ini. 

Kondisi ini tentu menjadi PR besar bagi guru dan orang tua di jaman now. Pasalnya kita harus selalu update teknologi dan informasi untuk  mempersiapkan anak-anak menghadapi era revolusi industri 4.0 yang sudah di depan mata. 

Inilah yang menjadi landasan hadirnya teknologi untuk menyempurnakan yang ada. Alhamdulillah, gagasan pak Presiden untuk menciptakan SDM unggul dengan membangun infrastrutur digital melalui proyek Palapa Ring sudah selesai. Akses internet sekarang sudah bisa dinikmati dari barat ke timur. Di bidang akademik, proses UNBK sudah berjalan lancar, PPDB Online sudah aman, dan yang terbaru ada portal Ruang Belajar Kemendikbud. Yeayyyy... 👏👏





Ruang Belajar, Solusi Pembelajaran Menarik Secara Gratis 

Ruang Belajar adalah sebuah inovasi pembelajaran dari Kemendikbud yang menghadirkan portal pembelajaran untuk siswa dan guru. Diluncurkan setahun lalu portal belajar ini bertujuan untuk menghadirkan proses pembelajaran yang menarik, interaktif dengan gratis. Untuk mengaksesnya kita bisa mendonlod melalui playstore ataupun android. 

Sampai tanggal 8 November 2019 totalnya ada 1.492.951 pendaftar dan follower Rumah Belajar. Selamat buat Pustekom yang menghadirkan Rumah Belajar, sebuah upaya belajar berbasis IT yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Di dalamnya ada fitur kelas digital, laboratorium maya, Bank Soal dan materi ajar yang bersumber dari kurikulum 2013.

Sebagai orang tua, tentu dengan adanya rumah belajar jadi memudahkan anak-anak belajar tanpa harus ikut les ini itu lagi. Lebih hemat dan praktis. Dari segi waktu ga perlu keluar ongkos dan bensin lagi untuk pergi ke tempat les, ya kan? Hanya keluar biaya kuota saja untuk mengakses kontennya hehehe.... 

Terakhir, pak Chabibie mengatakan, di bulan Desember portal Ruang Belajar akan menghadirkan lebih dari 1000 konten baru. Waah, can't wait. Yuk donload Ruang Belajar, ah! 



Tidak ada komentar