![]() |
| MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Media & Community Gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters”. |
Halo teman-teman, apa kabar?
Siapa yang udah usia cantik masih sering maju mundur cantik untuk medical check up? Atau, siapa mungkin ada yang masih takut banget dibiopsi kalau-kalau nemu benjolan?
Jujur, saya pun sempat ada di posisi itu. Tahun 2022 ketika di perut saya terdeteksi ada benjolan yang ternyata miom, saya sempat ngeri banget waktu disarankan biopsi. Maklum, waktu itu sempat termakan hoaks dan mitos yang beredar: katanya, biopsi itu ibarat nyolek sarang tawon. Bayangannya, begitu benjolannya disentuh atau diambil jaringannya lewat biopsi, tawon-tawon di dalam itu malah jadi bangun, ngamuk, dan bikin selnya makin cepat menyebar ke mana-mana. Duh, dengarnya saja waktu itu sudah bikin ciut nyali, ya!
Untungnya, ketakutan-ketakutan seperti itu kemarin banyak terjawab dan diluruskan saat saya hadir di acara Media and Community Gathering kolaborasi 45+Circle dan MRCCC Siloam Semanggi pada 28 Oktober 2026 lalu dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara.
Bertajuk "Every Story is Unique, Every Journey Matter" Acaranya seru dan cair banget! Bertempat di Amanaia Satrio, Tebet, para peserta datang kompak mengenakan dress code serba pink. Asyiknya lagi, kami duduk santai di atas bean bag, bikin suasana diskusi yang tadinya dikhawatirkan bakal kaku jadi terasa santai, akrab, dan benar-benar seperti lagi ngobrol bareng sahabat sendiri.
Dari obrolan santai kemarin, banyak banget insight daging yang rasanya sayang banget kalau nggak dibagikan. Berikut catatan yang saya rangkum.
![]() |
| Outfit serba pink bareng 45+Circle |
Biopsi is The King!
Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM mengibaratkan kanker itu seperti rayap. Ada banyak jenisnya. Dia menggerogoti dari dalam dan bisa menyebar ke mana-mana. Nah, sel kanker punya karakteristik yang berbeda-beda pada tiap orang. Jadi, obat dan penanganannya tentu nggak bisa disamakan.
Senada dengan itu, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk dari MRCCC Siloam Semanggi menjelaskan bahwa biopsi itu adalah kunci utama alias the king dalam menegakkan diagnosis yang akurat. "Jadi kalau curiga ada sesuatu, jangan apa-apa tanya AI," selorohnya di tengah acara.
Lewat hasil biopsi inilah dokter bisa tahu secara pasti apakah benjolan itu jinak atau ganas, serta menentukan jenis terapi yang paling pas. Kabar baiknya, kalau pun vonisnya ternyata kanker, penangannya sekarang nggak selalu harus langsung operasi besar atau mastektomi (angkat seluruh payudara).
Kalau stadiumnya masih awal dan ukuran tumornya memungkinkan, dokter sekarang punya metode yang disebut BCT (Breast-Conserving Therapy). Ini adalah teknik operasi di mana dokter hanya mengangkat jaringan tumornya saja, sehingga sebagian besar bentuk payudara bisa tetap dipertahankan. Apalagi dengan perkembangan teknologi kedokteran saat ini, penanganannya jadi jauh lebih ramah terhadap estetika dan kualitas hidup pasien.
Karena setiap individu itu unik, treatment-nya tentu bisa beda-beda—ada yang cukup dengan terapi hormon, kemoterapi dulu untuk mengecilkan ukuran tumor sebelum dioperasi, atau menggunakan metode minimal invasif. Dr. Denny juga sempat menenangkan bahwa penanganan breast cancer di MRCCC Siloam Semanggi ini sudah sangat komprehensif, jadi kita nggak perlu merasa ketakutan berlebihan.
Jangan Takut Deteksi Dini: Manfaatkan Layanan Gratis dari Kemenkes
Data GLOBOCAN 2024 menunjukkan bahwa kanker payudara masih menempati urutan teratas kasus kanker payudara pada perempuan di Indonesia, dan sebagian besar kasus baru ditemukan dalam stadium lanjut. Hal ini juga ditekankan oleh dr. Uswatun Hasanah, M.Epid dari Tim Kerja Penyakit Kanker Kemenkes RI. Kemenkes saat ini sedang gencar-gencarnya menargetkan dari angka 20% menjadi 60% kasus bisa ditemukan di stadium awal lewat deteksi dini.
Ngomong-ngomong soal risiko, siapa saja sih yang perlu lebih aware? Tanpa kita sadari, beberapa kebiasaan atau kondisi tubuh sehari-hari ternyata bisa meningkatkan faktor risiko kanker payudara, di antaranya:
* Faktor Usia & Riwayat Keluarga: Risiko cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, atau jika ada anggota keluarga dekat yang memiliki riwayat penyakit serupa.
* Faktor Reproduksi: Seperti mengalami haid pertama di usia yang terlalu muda, menopause yang lambat, tidak pernah melahirkan, atau melahirkan anak pertama di atas usia 30 tahun.
* Gaya Hidup & Hormonal: Mulai dari kebiasaan konsumsi diet tinggi lemak, alkohol, hingga penggunaan KB hormonal atau terapi sulih hormon dalam jangka panjang.
Melihat banyaknya faktor risiko yang kerap bersentuhan dengan aktivitas keseharian kita, makanya deteksi dini itu hukumnya wajib! Alhamdulillah buat kita para perempuan—khususnya usia 30 sampai 69 tahun—Kemenkes mengajak kita untuk memanfaatkan fasilitas Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas terdekat. Ingat ya, ada 3 langkah deteksi dini yang bisa kita lakukan:
* SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) secara rutin setiap bulan.
* SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) oleh tenaga medis.
* USG salah satunya USG Payudara, yang saat ini programnya sedang digencarkan banget oleh pemerintah dan bisa diakses melalui faskes terdekat.
Jadi, buat apa takut kalau kita bisa deteksi lebih awal dan mendapatkan kesempatan sembuh yang jauh lebih tinggi?
Mengelola Perasaan dan Saling Merangkul Sesama Perempuan
Mendengar vonis kanker tentu bukan hal yang mudah. Flavia Sungkit, seorang penyintas kanker, hadir ikut berbagi cerita. Ia mengakui bahwa masa-masa awal menerima vonis adalah titik terberat dalam hidupnya. Di usianya yang saat itu masih kepala tiga dan baru saja selesai menyusui, ia harus berdamai dengan kenyataan terdiagnosa kanker payudara stadium 1.
Tapi, pesan yang ia bagikan benar-benar menguatkan hati: "Boleh kok mengasihani diri sendiri, tapi jangan terlalu lama menangisi keadaan. Kanker bukanlah akhir dari chapter hidup kita. Anggap saja ini salah satu chapter kehidupan yang harus dilalui dengan penuh harapan, karena kita sedang berkejaran dengan waktu." Ia juga mengingatkan kita semua untuk tidak pernah kehilangan harapan. "You are not alone," pungkasnya.
Selain mental, urusan pemulihan fisik juga nggak kalah krusial. dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K) selaku Spesialis Rehabilitasi Medik mengingatkan bahwa proses rehab medik—baik sebelum maupun sesudah operasi—sangat penting. Pasca operasi, biasanya ada rasa tidak nyaman atau kaku di salah satu area tubuh, seperti di lengan yang membuat gerak jadi terbatas atau di bagian belakang punggung yang seringkali terasa nyeri. Melalui treatment khusus seperti latihan pernapasan (breathing), penguatan otot (strength training), hingga latihan ketahanan (endurance), fungsi tubuh bisa dipulihkan secara bertahap sekaligus mencegah komplikasi.
Dr. Anita juga menekankan bahwa kehadiran support system dari orang terdekat berperan besar dalam membantu pasien kembali percaya diri dan beraktivitas seperti semula. Ditambahkan oleh Dr. Jeffry: kalau ada keluarga atau teman terdekat yang terdiagnosa kanker, jangan jadi orang yang sok tahu dengan memberi tuduhan atau framing yang justru menjatuhkan mental mereka. Cukup rangkul, temani, dan jadilah support system terbaik untuk mereka.
Ki-ka : dr. Anita Ratnawati, dr. Adityawati Ganggaiswari, Dr. Denny Joko Purwanto, Dr. Jeffry Beta Tenggara, Flavia Sungkit, dr. Uswatun Hasanah
Dr. Denny pun memberi pesan menyejukkan: "Jika Tuhan menganugerahkan ujian berupa penyakit apa pun—termasuk kanker payudara—yakinlah bahwa kita tidak sendirian. Kita bisa bersama-sama melewati jalan panjang ini."
Hmmm, nyess banget ya? Lagi-lagi dikasih paham, di usia kita yang sekarang sudah menginjak kepala lima ini, ternyata menjaga kesehatan adalah bentuk cinta paling nyata untuk diri sendiri dan keluarga. Sepakat nggak? Terlebih dengan adanya pendekatan multidisiplin yang dihadirkan oleh MRCCC Siloam Semanggi—mulai dari diagnosis yang akurat, pilihan pengobatan yang personal, hingga pemulihan kualitas hidup—perjalanan dalam menghadapi kesehatan payudara kini terasa jauh lebih terarah dan menenangkan.
Yuk, sayangi diri kita, jangan ragu untuk rutin deteksi dini, dan mari saling mendukung satu sama lain! Kalau kalian sendiri, sudah rutin SADARI belum bulan ini?





Tidak ada komentar