It's My Turn, Menemukan Kembali Diri yang Hilang di Tengah Rasa Emptiness

Halo teman-teman pembaca setia! Apa kabar semuanya? Semoga selalu sehat dan bahagia, ya.

Pernah tidak sih, teman-teman merasakan fase di mana hidup di usia 45+ ini rasanya makin kompleks? Bukan cuma soal fisik yang mulai gampang lelah, urusan berat badan, circle pertemanan yang perlahan mengecil karena kesibukan masing-masing, atau bayang-bayang masa pensiun, tapi juga dinamika hubungan dengan anak-anak yang mulai beranjak dewasa.

Benturan Komunikasi

Ngomongin soal anak dewasa, jujur saja, beberapa waktu lalu saya sempat mengalami kejadian yang benar-benar bikin dada sesak dan meneteskan air mata.

Semua berawal dari kebiasaan saya yang suka memantau story media sosial ketiga anak saya yang sekarang hidup tidak serumah. Anak pertama bekerja di luar negeri, anak kedua (Tsaka) bbugbekerja di kota sebelah, dan yang bungsu wajib tinggal di asrama kampus selama tahun pertama kuliahnya. Saya paham, kalau mereka sudah pasang story artinya ada waktu luang. Maka itulah waktunya buat berinteraksi dan bertukar kabar.

Bukan berarti saya pilih kasih atau cuma memprioritaskan salah satu anak. Kasih sayang dan perhatian saya tentu sama besarnya untuk mereka bertiga. Namun, suatu hari dinamika mendadak berubah. Sebagai ibu yang ingin dilibatkan dalam rencana besar anaknya, wajar dong kalau saya bertanya sejauh mana perkembangannya dan kenapa saya gak dilibatkan?

Tapi di luar dugaan, respons yang saya dapatkan justru terasa ketus. Lalu... oh so sad, saya benar-benar diblokir oleh anak sendiri! 💔

Duh, rasanya waktu itu benar-benar seperti disambar petir. Saya menangis, sedih banget, dan kepikiran bertubi-tubi. Pikiran saya berisik: “Salah saya apa? Padahal kan saya cuma perhatian, kenapa sampai tega diblokir?”

Beberapa hari kemudian ketika kepala dingin, saya mencoba duduk hening. Di situ sebuah kesadaran menghantam saya pelan-pelan: ternyata selama ini saya terlalu fokus "mengisi" dan mencampuri hidup anak-anak, sampai lupa mengisi diri sendiri.

Mengisi Ulang Energi Lewat Circle yang Tepat

Suasana  hangat saat sesi talkshow bersama Psikolog Klinis Rosdiana Setyaningrum di acara The Circle Connect Series "It's My Turn!"


Ndlalah, semesta menyambut kegundahan saya dengan sebuah undangan manis untuk reconnect bareng teman-teman baru di komunitas @45pluscircle. Sebuah wadah yang isinya orang-orang seusia yang sudah tidak mencari apa-apa lagi selain sehat dan bahagia lahir batin.

Sabtu lalu (17 Oktober 2026), saya hadir di acara The Circle Connect Series dari @45pluscircle yang bertajuk "It's My Turn! From a Quiet Home to a Colorful Life".

Acaranya diadakan di Re.Verse Coffee & Tea, Melawai, Jaksel—kafe unik yang semua minumannya manis alami menggunakan gula stevia tanpa gula tebu. Pas banget buat kita yang ingin tetap menikmati kopi/teh enak sambil menjaga kesehatan. 

Sesuai dress code-nya yang Lively and Colorful, suasana ruangan benar-benar jadi rame dan penuh semangat. Ternyata bener ya pemilihan warna baju mempengaruhi kondisi hati. Saya memilih blues baby blues dengan hiasan kancing rajutan bikinan sendiri 🥰

Btw acaranya bukan cuma sekadar talkshow santai bersama Psikolog Klinis Rosdiana Setyaningrum, tapi juga bertabur kegiatan seru: mulai dari main The Circle Bingo, momen emosional menuliskan bentuk komitmen di 'Promise Tree' Bloom Again, sampai makan siang dan networking bareng sesama perempuan hebat di usia 45+.

Mengatasi Emptiness

Tampil ceria dan penuh warna sesuai dress code "Lively and Colorful" bareng teman-teman baru yang sefrekuensi.


Di sana, dalam sesi talkshow bersama Psikolog Klinis Rosdiana Setyaningrum, saya dapat insight yang rasanya menampar sekaligus menenteramkan saya. Beliau bilang, kunci utama untuk mengatasi rasa hampa (emptiness) di usia kita itu ada 3:

 * Acceptance – Menerima kondisi kalau anak sudah dewasa, dan ikhlas belajar "mundur" memberi mereka ruang.

 * Affection – Mulai mengarahkan kasih sayang dan self-love ke diri sendiri. Isi dulu tangki cintamu!

 * Achievement – Punya kegiatan baru, hobi baru, atau pencapaian baru yang bikin hidup kita bergairah lagi.

Yeayyy! Insight ini benar-benar jawaban dari rasa sedih saya kemarin! 😍

Mau melanjutkan pendidikan? Ikut kursus baking? It's okay!

Mau jadi relawan, mau dancing atau nyanyi-nyanyi? It's okay!

Mau melanjutkan menulis, bikin konten, atau travelling sendiri? It’s totally okay!

Keseruan di acara kemarin benar-benar jadi bonus penyegar jiwa. Acaranya fun, penuh tawa, banyak teman baru yang punya minat sama dan hoki bertubi-tubi! Bayangkan, saya duduk bertiga di satu meja, dan ajaibnya kami bertiga pulang membawa hadiah semua—mulai dari games tercepat, best dress code, sampai doorprize! Alhamdulillah 😍

Kejadian diblokir Tsaka kemarin memang sempat bikin saya meneteskan air mata. Tapi kalau tidak ada kejadian itu, mungkin saya tidak akan sadar kalau sudah waktunya saya merawat diri saya sendiri dan mengisi ulang tangki cinta yang sempat kosong.

Mundur bukan berarti berhenti mencintai anak, tapi memberi ruang agar dia tumbuh dewasa, sementara kita sibuk membahagiakan diri sendiri. Saya yakin paling sebentar lagi kami baikan hahaa.. 

Now It’s My Turn to be happy! ✌️😎



Tidak ada komentar