Sayang Uang Sayang Barang





Saya pernah mendengar pendapat, penampilan adalah kunci kesuksesan. Akan kentara sekali ketika profesi kita mengharuskan untuk bertemu dengan banyak orang, penampilan kucel, acak-acakan dan selebor tentu menjadi tanda tanya besar mengenai kepribadian kita.

Sehubungan dengan penampilan, setiap ada undangan event Blogger saya berusaha semaksimal mungkin untuk tampil sopan dan rapi. Baju-baju yang saya pakai adalah baju sehari-hari khusus untuk bepergian yang saya sesuaikan untuk acara formil dan non formil. Demikian juga dengan sepatu dan tasnya ikut saya sesuaikan juga. Ibaratnya, pakaian formil ngga mungkin saya sandingkan dengan sepatu kets kan hehehe…

Ngomong-ngomong soal sepatu, kapan terakhir kali ya saya beli sepatu? Hmmm, meski punya beberapa alas kaki, tapi saya ngaku deh bila masih tetep ‘ijo’ jika liat diskonan barang pujaan di etalase toko. Dari mulai tas yang untuk keperluan anu, tas untuk keperluan inu, sepatu untuk keperluan anu, sandal untuk keperluan inu, semuanya seperti ngga ada habisnya jika diikuti.  

The guilty shopper
Sayangnya, meski hobi dengan barang bagus,sejak beberapa tahun ini saya ngga hobi belanja lagi. Berat banget rasanya keluarin uang. Apalagi kebutuhan makin meningkat, pastilah prioritas kebutuhan yang saya utamakan. Saya tau banget, ini bukan soal pelit atau boros, tapi  ‘the guilty shopper’ jadi semacam siksaan juga.

Untunglah saya punya keluarga besar yang akrab. Lungsuran tas dari kakak-kakak saya yang mayoritas perempuan mendarat ke tangan saya dengan manis. Dengan tetangga yang seide seiman saya juga sering tukar-tukaran tas (baca ini ), yang penting kedua belah pihak sama-sama happy aja.

Nah, masalahnya terkadang saya kepentok juga. Soal sepatu kan jarang sekali ada lungsurannya. Mau ngga mau saya tetap harus beli, toh. *usap airmata

Jadi gimana dong? Hmmpph, terus terang saya ngga menyarankan untuk beli sepatu second atau beli yang murahan sampe bikin lecet atau kepeleset. Janganlah berpikir, demi dapet harga murah sampe kita harus tersiksa begitu. Beli yang bagus dan nyaman di kaki. Ngga papalah airmata dan keringat kita sesekali diinvest untuk beli alas kaki yang bagusan. Toh yang ngerasain kan diri kita sendiri juga. Deal.

Sekarang setelah membeli tentu kita harus merawat supaya ngga cepat rusak dong. Apa aja yang bisa kita lakukan untuk merawat barang supaya awet, berikut beberapa tips yang saya lakukan. Simak yuk.


Tips : kita hanya perlu sedikit cermat jika ingin barang kesayangan awet dan tahan lama

1.       Bawa alas kaki cadangan. Untuk pergi dan pulang ngejar-ngejar bis saya memakai alas kaki yang murah tapi enak dipakai, setelah sampai tujuan segera saya langsung ke toilet untuk berganti wujud pakai alas kaki yang bagusan. Sayang dong ah.

2.       Baca label perawatan dulu sebelum membeli. Jangan sampai setelah barang dibeli saya harus direpotkan lagi dengan perawatannya yang ajaib. Hal ini membuat saya berpikir dua kali sebelum membeli.

3.       Perawatan pakaian berbahan rajutan itu susah-susah gampang. Jadi daripada merepotkan, lebih baik saya menghindari memiliki pakaian berbahan rajutan. Lagipula bahan rajutan menurut saya kurang pas di Negara tropis macam Indonesia, gerah.

4.       Panas setrika itu bisa memudarkan warna dan merusak pakaian. Untuk menghindari pudarnya warna, strategi saya adalah dengan membalikkan pakaian, lalu menyetrika dari bagian dalam baju.

5.       Ingat, harga mahal suatu barang tergantung capsloknya. Sebelum membeli, kata-kata sakti ini dijamin bikin saya pikir panjang dulu untuk sebuah barang layak dibeli atau ngga. Jika lihat parade fashion show, bagus emang sih baju-bajunya yang sliweran. Apalagi biasanya itu karya desainer mahal. Tapi pikirkan lagi aja, yang memakainya siapa? Kalo ngga cocok dengan badan dan kepribadian buat apa dibeli?

Ribet banget ya?  Gapapalah daripada mubazir sudah beli barang tapi ngga dipakai sama sekali, ya kan. Kira-kira ada lagi yang mau ditambahi lagi ngga, monggo silakan lho J


No comments