Ternyata Orang Tua Berperan Penting Dalam Lindungi Keluarga Dari Diabetes


Sejak terkena serangan stroke tahun 2015 silam, ibu saya baru ketahuan mengidap penyakit diabetes. Waktu itu, kadar gula ibu saya 280 mg/dl. Setelah menjalani pengobatan kadar gula ibu perlahan-lahan turun di angka 170 - 180 mg/dl. Alhamdulillah, tentunya keberhasilan ini didukung oleh kedisiplinan makan makanan tertentu dan istirahat yang cukup.

Terkait dengan diabetes yang kerap dinamakan dengan penyakit kencing manis, kebetulan saya mendapat undangan dari Kemenkes dalam rangka hari kesehatan sedunia di kantor Ditjen P2P, Percetakan Negara, Jakarta Pusat, 13 April 2018 lalu. Acara ini menjadi spesial buat saya, karena berdasarkan hasil test gula darah nyatanya saya pun berbakat diabetes, menuruni ibu saya nampaknya, huhuhu...





Apa itu Diabetes?
Sebelum saya bahas mengenai hasil test gula darah saya, saya mau jelaskan dulu ya mengenai penyakit ini. Diabetes adalah suatu penyakit dimana kadar gula dalam darah seseorang di atas normal (tinggi), sehingga gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh. Nah, hal ini disebabkan oleh insulin yang diproduksi oleh pankreas di dalam tubuh kita terlalu sedikit atau tubuh tidak dapat merespon kerja insulin.

Umumnya Diabetes terjadi pada orang yang mempunyai riwayat keluarga DM, mengalami kelebihan berat badan dan wanita yang pernah melahirkan bayi jumbo yang beratnya di atas 4 kg. Disamping itu, gaya hidup tidak aktif dan sering menkonsumsi makanan tinggi lemak dan padat kalori juga memiliki andil penting terhadap datangnya penyakit ini. Jadi hati-hati ya bila gejala berikut sering dialami yaitu sering haus, sering lapar dan sering kencing.

Penyakit diabetes merupakan salah satu dari empat prioritas penyakit tidak menular yang menjadi perhatian khusus pemerintah karena penyakit ini belum ditemukan obatnya sampai sekarang. Jadi, penderita diabetes harus menjalani pengobatan seumur hidup.

Diabetes yang tidak diobati atau dikontrol dapat menyebabkan komplikasi serius yang sudah pasti menelan biaya tinggi seperti penyakit kardiovaskular, kebutaan, gagal ginjal dan dalam beberapa kasus mungkin mengancam jiwa.



Prevalensi Diabetes Semakin Meningkat
Tadi sore saya baru saja takziah ke rumah Budi Sudrajat, teman SMP saya yang baru saja berduka. Ayahandanya meninggal kemarin dikarenakan diabetes yang menyebabkan komplikasi gagal ginjal, paru-paru dan terakhir menyerang jantung. Menurut Budi, sejak tahun 96 ayahnya diketahui menderita Diabetes. Tapi di tahun terakhir inilah kondisi ayahnya semakin drop saja.

Berada di lingkaran orang-orang yang terkena Diabetes terus terang membuat hati saya ciut. Terlebih, berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah sewaktu, kadar gula darah saya mencapai 180 mg/dl dimana saat diambil darahnya saya baru saja sarapan.



Dari hasil pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS), saya dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan gula darah puasa (GDP). Hmm, lalu bedanya apa, sih, antara GDS dan GDP?

Jadi gini, GDS adalah test darah yang dapat dilakukan setiap saat sepanjang hari untuk memeriksa tingkat gula darah pada titik waktu itu. Jika nilai GDS lebih dari 200 mg/dl diindikasikan seseorang dikatakan terkena diabetes. Sedangkan GDP adalah uji jumlah gula dalam aliran darah yang dilakukan setelah orang berpuasa 8 jam. Biasanya malam hari orang puasa lalu paginya sebelum sarapan diambil darahnya. Jika nilai GDP lebih dari 126 mg/dl indikasinya orang tersebut memiliki diabetes.

Berikut kisaran kadar gula darah normal dalam tubuh :
sebelum makan : sekitar 70 - 130 mg/dl
dua jam setelah makan : kurang dari 180 mg/dl
setelah tidak makan (puasa) selama delapan jam : kurang dari 100 mg/dl
menjelang tidur : 100 - 140 mg/dl

Ketakutan saya terhadap penyakit berbahaya dan mematikan ini sangat beralasan begitu mendengar penjelasan dr Anung Sugihantono, M.Kes, Dirjen P2P Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. "Berdasarkan data milik Kementrian Kesehatan yang diperoleh dari Sample Registration Survey 2014 menunjukkan diabetes menjadi penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan presentase 6,7% setelah Stroke 21,1% dan penyakit jantung koroner 12,9%.


Berdasarkan data Riskesda tahun 2013 jumlah penderita Diabetes di Indonesia pada tahun 2007 naik menjadi 6,9% atau sekitar 9,1 juta jiwa dan menempatkan Indonesia di peringkat ke 6 di dunia dengan jumlah penderita diabetes sebanyak 10,3 juta jiwa. Dikuatirkan, jika tidak ditangani dengan baik beban pengluaran kesehatan akan semakin tinggi, masa pengobatan yang lama dan ancaman kematian. Terlebih, WHO pun telah mengestimasi angka kejadian diabetes di Indonesia akan melonjak drastis menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 20130 kelak. Serem ya.




Waspadai Diabetes Melitus Tipe 2
Bapak Anung memaparkan, mayoritas penderita Diabetes di Indonesia tergolong ke dalam penderita Diabetes Melitus atau DM tipe 2 (yang tidak tergantung insulin). Orang yang menderita penyakit ini, pankreasnya menghasilkan insulin yang tidak memadai lagi atau bisa jadi karena si tubuh tidak mampu memanfaatkan insulin yang tersedia di dalam tubuhnya dengan benar.

Diabetes tipe 2 kerap terjadi pada orang dewasa yang umumnya memiliki kelebihan berat badan alias obesitas dan kurang melakukan aktivitas fisik. Tapi, selama beberapa tahun ini, faktanya bukan saja orang dewasa yang terkena penyakit ini tapi juga ditemukan pada anak dan remaja.

Peran Orang Tua Dalam Lindungi Keluarga Dari Diabetes
Meningkatnya jumlah penderita Diabetes tipe 2 baik pada orang dewasa maupun pada anak dan remaja perlu diatasi karena si penderita tidak akan menyadari kondisi kesehatannya tengah terganggu dalam jangka waktu lama, sehingga penyakit ini cenderung terabaikan. Perlahan tapi pasti, penyakit ini diam-diam merusak fungsi berbagai organ tubuh dan menyebabkan komplikasi serius yang mengancam kematian (silent killer).


Untuk itu, peran orang tua, khususnya ibu, dalam lindungi keluarga dari diabetes sangatlah penting untuk mencegah melonjaknya jumlah penderita diabetes ke depannya. Ingat kan dengan skema siklus kehidupan dimana anak mendapatkan makanan pertama dari ibu? Tanpa nutrition parenting dari orang tua, anak dan remaja tidak akan bisa menyaring perilaku makan yang dilihatnya.


Untuk melindungi keluarga dari Diabetes tipe 2 berikut adalah hal-hal yang perlu dibiasakan mulai sekarang yakni sebagai berikut :

  • Tidak makan sambil menonton TV
  • Batasi penggunaan gawai
  • Perbanyak aktivitas di luar ruangan
  • Biasakan makan dengan keluarga
  • Biasakan sarapan sehat
  • Biasakan membawa bekal makanan sehat dan air putih dari rumah
  • Batasi konsumsi makanan siap saji dan pangan olahan, jajanan dan snack manis, asin dan berlemak
  • perbanyak konsumsi sayur dan buah
  • Tidak merokok dan minum minuman beralkohol
  • Hindari konsumsi minuman ringan dan bersoda

Bapak Anung juga menghimbau agar gerakan CERDIK yang dicanangkan Kemenkes dapat dijadikan pedoman pencegahan diabetes bagi keluarga kita yaitu :



C - Cek kesehatan berkala misalnya periksa tensi, gula darah, dan kolesterol secara teratur, serta kendalikan berat badan ideal

E - Enyahkan asap rokok dan tidak merokok

R - Rajin aktivitas fisik minimal 30 menit sehari dengan prinsip baik, benar, teratur dan terukur

D - Diet seimbang dengan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi. Perbanyak konsumi buah dan sayur, menekan konsumsi gula dalam sehari yaitu maksimal 4 sdm atau 50 gram sehari serta menghindari makanan manis atau berkarbonasi

I - Istirahat yang cukup dengan tidur delapan jam di malam hari

K - Kelola stress dengan baik dan benar

Cara Manis Hadapi Si Kencing Manis Diabetes
Manisnya gula memang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Terbayang ya betapa begitu menggiurkannya saat sore hari ngemil klepon, martabak manis, donat dengan segelas kopi dan gula. Etapi, tunggu dulu. Coba bayangkan kalorinya deh. Ada berapa banyak gula itu? hohohoho...

Mengerti akan kebutuhan masyarakat akan gula tapi ingin terus konsisten mengusung gaya hidup sehat, Nutrifood sebagai produsen makanan dan minuman kesehatan menjadi solusi paling aman yang dapat kita pilih untuk melindungi keluarga dari diabetes.




Terbukti dalam rangkaian acara kesehatan bertema Lindungi Keluarga Dari Diabetes kemarin ada satu hal yang menarik buat saya. Bila selama ini snack yang dihadirkan umumnya berupa makanan manis berkalori tinggi akan tetapi kali inii berbeda. Buah pisang, anggur dan jeruk menjadi cemilan sehat yang dihidangkan dengan citarasa manis alami dari air buah itu sendiri. Sedangkan untuk minumannya, kita dipersilakan pilih, mau minum teh yang ditambahkan gula Tropicana Slim atau kopi hangat ala Cafe yakni Tropicana Slim White Cofee.



Bagi penggemar kopi seperti saya, tentu kehadiran Tropicana Slim White Cofee menjadi sebuah solusi sehat untuk tetap mengkonsumsi kopi ala cafe-cafe yang mayoritas mengandung kalori dan gula dan tinggi yang beresiko menyebabkan diabetes.

Adapun Nutrifood telah melakukan berbagai upaya untuk berkontribusi penuh dalam upaya membangun keluarga Indonesia yang sehat sejak 30 tahun yang lalu. Dengan gerakan green - health - education maka salah satu agendanya adalah dengan berkolaborasi dengan Kemenkes seperti acara ini.

Diwakili oleh Ibu Susana, Head of Nutrifood Research Centre dan didampingi dr Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA (PLT Direktur P2P PTM) dan dr Em Yunir, SpPD, KEMD (Sekjen Perkumpulan Endokrinologi) juga penyintas Diabetes yang turut hadir mengharapkan kesadaran keluarga Indonesia akan pentingnya gaya hidup sehat akan berdampak lebih besar sehingga angka penderita diabetes dapat ditekan. Nah, sekaranng, pertanyaannya, sebagai ibu dari anak-anak kita, ada di mana peran kita sekarang? Yuk Lindungi Keluarga Dari Diabetes..


http://www.mba-diahworo.web.id/2018/04/ternyata-orang-tua-berperan-penting-dalam-lindungi-keluarga-dari-diabetes.html











Tidak ada komentar