Hati-hati dengan Hati





Urusan hati memang kerap membuat orang jadi gampang bersiteru. Dikit-dikit galau. Dikit-dikit baper. Dikit-dikit julid. Itulah sebabnya kita sebaiknya hati-hati dengan hati. Jangan sampai sakit hati. Apalagi sakit hati yang ini...

Sakit hati yang saya maksud kali ini adalah sakit yang terjadi pada organ hati. Sebagai organ yang memiliki peran penting dalam tubuh hati bertugas menjaga keseimbangan sistem dalam tubuh. Dia menawarkan dan menetralisir racun, menghasilkan empedu, mengontrol kadar lemak dalam darah dan mengatur sirkulasi hormon. Jika hati terpapar kontak dengan berbagai penyebab kerusakan maka muncullah berbagai masalah kesehatan yang serius.

Salah satu penyebab masalah kesehatan pada hati adalah virus. Virus inilah yang menyebabkan hepatitis menyerang penderitanya. Dan sayangnya, sampai kini penyakit hepatitis itu seperti gunung es. Puncaknya kecil bawahnya luas. Artinya, yang terdeteksi jumlahnya sedikit sedangkan yang tidak terdeteksi sangat banyak. Akibatnya, penyakit kronis ini kerap disebut sillent killer atau pembunuh diam-diam. Ketika seorang menyadari dirinya terinfeksi setelah berada pada tahap lanjut/ kronis bahkan sudah terjadi sirosis dan kanker hati. Ngeri ya.


Untuk meningkatkan perhatian, kepedulian dan pengetahuan berbagai pihak terhadap masalah virus hepatitis di Indonesia dan sekaligus dalam rangka memperingati hari hepatitis sedunia yang jatuh pada tanggal 28 Juli, Kemenkes RI kembali mengundang saya dan teman-teman Blogger dalam temu Blogger. Bertema "Deteksi Dini Hepatitis, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa" di ruang Nantara gedung Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta temu Blogger yang berlangsung pada 27 Juli 2018 silam hadir pula dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes dan Dr. dr Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KEGH sebagai Sekretaris Jendral PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) sebagai narasumber.

Disampaikan oleh dr Wiendra hepatitis berasal dari kata hepar (hati) dan -itis (radang) jadi artinya peradangan hati, dimana penyakit ini ditularkan melalui berbagai cara yakni :


  • Virus Hepatitis,
  • Obat-obatan,
  • Alkohol,
  • Virus lain (Dengue, Herpes)
  • Parasit (Malaria, Ameba)
  • Dan yang paling terbaru ditemukan adalah akibat perlemakan hati


Dari keenam faktor pemicu terjadinya hepatitis tadi, yang paling banyak ditemukan adalah penderita hepatitis yang ditularkan oleh virus hepatitis. Nah, cara penularannya melalui :



Jadi, bila kita selama ini kita mengira bahwa orang yang terkena Hepatitis A maka di kemudian hari statusnya tidak mungkin berpindah menjadi sakit Hepatitis B. Tetap aja hepatitis A. Demikian pun bila ia sudah pernah sakit Hepatitis B, maka statusnya tidak bakal berubah jadi sakit Hepatitis C. Tetap aja hepatitis B. Nama A-B-C dimaksudkan untuk mengelompokkan jenis- jenis penyakit hepatitis berdasarkan jenis virus penyebabnya. Jadi bukan naik kelas gitu, lho.

Dari gambar berikut disebutkan bahwa penyakit Hepatitis A dan E ditularkan melalui kotoran yang masuk ke dalam mulut. Dari makanan tidak bersih, sanitasi tidak terjaga dan tidak higien. Ditegaskan dr Wiendra, sakit Hepatitis A dapat sembuh 100%.

Nah, bila hepatitis A ditularkan melalui mulut maka penyakit Hepatitis B, C, D ditularkan melalui kontak cairan tubuh. Ada dua cara penularan kontak cairan tubuh yaitu melalui cara vertikal atau horizontal.



Kalau cara horizontal cara penularannya melalui kontak dengan darah, penggunaan jarum suntik yang tidak aman, tranfusi darah dan organ yang tidak discreening atau hubungan sexual tidak aman. Umumnya penderita yang ditularkan melalui cara ini adalah penderita Hepatitis C dengan prosentasenya yaitu 5% penduduk Indonesia.


FAKTA : 

1 dari 10 penduduk Indonesia mengidap Hepatitis B. 

Penyakit Hepatitis B sampai ini belum dapat disembuhkan 

Proses penularan Hepatitis B dari ibu hamil ke bayinya.

Lain lagi dengan penularan melalui cara vertikal. Penularan hepatitis melalui kontak cairan ini bisa berawal dari ibu hamil ke anaknya, dari anak ke anak (kakak adik) atau dari orang dewasa ke anak kecil. Biasanya penderita penyakit yang ditularkan melalui cara vertikal ini adalah penderita Hepatitis B dimana prosentasenya paling besar yaitu 95%.


Dan sayangnya, Kemenkes menegaskan bahwa penyakit hepatitis B belum ada obatnya. Sedangkan baru-baru ini obat untuk penyakit hepatitis C sudah ada obat Direct Acting Antiviral. Mengapa begitu?

Dr Wiendra mengatakan, proses penularan hepatitis C biasanya terjadi akibat lifestyle yaitu peminum alkohol. Virus inilah yang menyebabkan sirosis hati atau kanker hati. Sementara itu proses penularan hepatitis B biasanya terjadi secara vertikal yaitu dari ibu ke anak. Virus ini tidak menyebar ke seluruh aliran pembuluh darah melainkan langsung ke inti sel. Itulah sebabnya penyakit hepatitis B ini belum ditemukan obatnya sampai sekarang karena belum ada obat yang bisa menembus inti sel.



Tingginya angka kejadian Hepatitis celakanya terjadi karena penderitanya hampir tidak memiliki gejala khusus. Ketika terdeteksi tau-tau ketika sudah terlambat. Ada yang sudah terkena sirosis hati dan ada yang terkena kanker hati. Beban pengeluaran negara terhadap satu dari sepuluh penyakit mematikan ini pun sangat tinggi. Dihitung-hitung, untuk biaya satu kasus sirosis hati biayanya mencapai 1 M dan 1 kasus kanker hati sekitar 5 M!!!

Untuk itu Kemenkes menghimbau untuk segera melakukan Deteksi Dini Hepatitis B pada target 5,3 juta ibu hamil terdeteksi untuk mencegah buah hatinya tertular virus ini. Ingat, penderita Hepatitis umumnya tidak mengalami gejala apapun. Tau-tau ketika bayi yang dilahirkan 30 tahun silam nyatanya sudah tertular saat masih dalam kandungan atau setelah dilahirkan. Kasihan kan.

Setiap tahun diperkirakan terdapat 120.000 bayi akan menderita hepatitis B dan 95% berpotensi mengalami hepatitis kronis (sirosis atau kanker hati) 30 tahun ke depan. 

Kemenkes pun menghimbau untuk ibu hamil yang menderita hepatitis B untuk mau konsultasi kesehatannya tersebut dan memilih melahirkan di fasilitas layanan kesehatan. Tujuannya tidak lain untuk meminimalisir penularan ke bayinya dari masih di kandungan, pada proses kelahiran atau kurang dari 24 jam setelah kelahiran.

Untuk meminimalisir berbagai resiko tertularnya virus Hepatitis yang nyatanya bahayanya 100 kali lebih kejam dari virus HIV ini maka bagi bayi dari ibu penderita Hepatitis B dianjurkan untuk segera diberikan vaksinasi HB0, HBIg dan Vitamin K kurang dari 24 jam setelah kelahiran.


Dan untuk jangka panjangnya secara kontinue bayi dianjurkan untuk diberikan imunasasi dasar sesuai jadwal program imunisasi Nasional selama ini.

Sayangi buah hati kita. Jangan ragu untuk DDHB pada ibu hamil karena biayanya gratis, koq. Mari berperan serta agar target Indonesia bebas Hepatitis tahun 2020 tercapai.















No comments