Mari Putuskan Angka Stunting Dengan Perbaikan Gizi




Teman-teman, sedih ya rupanya kejadian stunting di negara kita masih terbilang tinggi. Menurut data Kemenkes, 1 dari 3 balita Indonesia menderita stunting. Untuk itu mari putuskan angka stunting dengan perbaikan gizi, yuk! 

Anak stunting sering disebut dengan anak cebol. Tingginya lebih pendek dari anak-anak seusianya dan biasanya fisiknya juga kurus. Sistem kekebalan tubuhnya rendah sehingga lebih mudah sakit dan lama sembuhnya. Nah selain gangguan pertumbuhan stunting juga rupanya mempengaruhi perkembangan anak. Anak stunting biasanya memiliki kecerdasan lebih rendah, mengalami gangguan bicara dan kesulitan dalam belajar. Akibatnya, prestasinya di sekolah akan buruk.

Stunting terjadi karena kurangnya asupan gizi anak dalam 1000 hari pertama kehidupannya, buruknya kebersihan lingkungan dan minimnya fasilitas sanitasi dan akses air bersih. Kebersihan yang kurang terjaga membuat tubuh harus bekerja keras melawan sumber penyakit sehingga menghambat penyerapan gizi yang dibutuhkan tubuh. 

Untuk itu sebagai ibu kita harus paham apa yang dimakan, diminum dan dilakukan dan dialami selama menjelang dan setelah 1000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting dapat dicegah koq tapi momen 1000 hari pertama kehidupan tidak dapat terulang. Inilah momen yang akan menentukan kelak kesehatan dan kecerdasan anak di masa depan. 

Bila dibiarkan kondisi ini tentu saja berdampak buruk untuk masa depan si anak. Karena rupanya tak hanya berdampak pada kecerdasan melainkan ada penyakit yang mengiringinya pula yakni diabetes, hipertensi dan obesitas. Gimana nanti dia bisa bersaing di dunia pekerjaan? Di sisi lain, tingginya prevalensi stunting dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi negara. 




Yah, permasalahan stunting memang masih menjadi PR besar bersama. Salah besar kalau kita hanya bertumpu pada pemerintah saja. Untuk itu, dalam membantu cita-cita pemerintah mewujudkan generasi emas di tahun 2045 yang salah satu prioritasnya adalah mengatasi stunting, YAICI berupaya menyebarluaskan informasi kesehatan melalui sosialisasi dan kampanye secara kontinyu. 

Meskipun pandemi, agenda sosialiasi edukasi dan kampanye tetap harus berjalan. Melalui media daring YAICI mengadakan webinar Membangun Kesadaran Gizi Keluarga Mulai Dari Usia Dini pada 21 Desember 2020 lalu. Acara yang melibatkan HIMPAUDI diikuti sekitar 496 peserta yang berasal dari kader dan masyarakat dari seluruh Indonesia. Dengan dimoderatori Kang Maman Suherman sosok penulis, jurnalis dan juga sahabat literasi menghadirkan narasumber berikut : 

1. Ir. Harris Iskandar, Ph.D - Widyaprada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

2. Arif Hidayat, SE.,MM - Ketua harian YAICI

3. Prof. Dr. Ir. Netti Herawati M.Si, - Ketua Umum PP HIMPAUDI

4. dr. Moretta Damayanti, SpA(K), M.Kes - Staf dan Staf Pengajar KSM Anak RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya - IDAI 

Kental Manis Bukan Susu
Tidak disangka sejak tahun 2018 lalu YAICI telah melakukan penelitian berkelanjutan mengenai keterkaitan kurang gizi dan obesitas dengan konsumsi susu kental pada anak di bawah usia 5 tahun. Bersama PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah YAICI melakukan penelitian di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT dan Maluku dengan total responden sebanyak 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0 hingga 5 tahun. 

Dari penelitian pola konsumsi dan persepsi responden ditemukan fakta mengejutkan. Di DKI Jakarta dan Jawa Barat ditemukan 1 dari 4 balita mengkonsumsi kental manis setiap harinya. Kategori usia terbanyak yang mengkonsumsi kental manis adalah : 

anak usia 3-4 tahun sebanyak 26,1%, 

anak usia 2 - 3 tahun sebanyak 23,9%,

anak usia 1 -  2 tahun sebanyak 9,5%

anak usia 4 - 5 tahun sebanyak 15,8%

anak usia 5 tahun sebanyak 6,9%.

Dari penelitian ini juga ditemukan sumber kesalahan persepsi ibu sebanyak 48% mengakui memberikan kental manis pada balitanya lebih dari satu gelas perhari. Ini jelas berbahaya karena dalam satu porsi gelas/botol susu kental manis sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan harian gula anak. 

Kebanyakan ibu tahu dari iklan di berbagai media dan tenaga kesehatan bahwa susu kental manis adalah minuman sehat. Mereka membeli karena harganya lebih murah dari susu formula anak dan mudah dibeli. Yang sangat disayangkan, para ibu yang tinggal di ibukota pun nyatanya masih belum teredukasi dengan baik.  

Edukasi Gizi Anak Melalui PAUD 
Tidak bisa dipungkiri kurangnya pengetahuan para ibu menjadi faktor penyebab kejadian anak gizi buruk, obesitas dan stunting. Akan terlalu panjang kalau dicari lagi akar penyebabnya, bisa karena faktor menikah usia dini bisa juga karena adanya salah persepsi turun temurun akibat iklan dan promosi yang selama ini ditelan bulat-bulat. 


Diakui Arif Hidayat, memang sulit mengubah apa yang sudah tertanam di benak masyarakat bahwa susu kental manis itu sehat. Maka tidak ada cara lain untuk meningkatkan pengetahuan para ibu mengenai gizi. Dan dari dunia pendidikan yakni PAUD lah diharapkan dapat memberi kontribusi dalam mewujudkan generasi emas tahun 2045 mendatang. Karena di usia-usia inilah adalah fase golden age yang akan membentuk karakter dan pribadi anak di masa dewasanya nanti baik dari segi fisik, mental maupun kecerdasannya. Nah disinilah maka diperlukan peran orang tua dan guru yang berkesinambungan dan kompak mengajarkan anak pemahaman akan gizi dan konsep makanan yang baik.

Netti Herawati pun mengatakan hal senada, bagaimanapun apa yang dimakan anak tergantung dari orang tua dan guru. PAUD seharusnya menjadi tempat yang membawa perubahan gizi pada anak. Diharapkan semua PAUD kedepannya memiliki program makanan sehat sehingga bisa memenuhi kebutuhan gizi anak. 

Di rumah ibu bisa memberikan menu sayur dan buah-buahan dalam menu makanan sehari-hari sambil mengenalkan perbedaan wortel dan bayam, bagaimana rasa semangka dan jeruk sehingga anak akan tumbuh rasa bersyukur membayangkan bagaimana makanan-makanan tersebut dapat tersaji dan manfaatnya bagi tubuh. 




Ini tentu menjadi PR tersendiri mengingat masih banyak persepsi keliru mengenai porsi makan. Katanya banyak makan itu baik, banyak makan itu sehat, makanya para ibu berusaha dengan berbagai cara menjejali makanan pada anaknya. Padahal yang berlebihan itu tidak baik, porsi makan yang berlebihan akan menimbulkan anak jadi obesitas. Apalagi kalau kandungan gula dan garamnya tinggi. Inilah tantangan terberat para ibu untuk mengerem memberikan anak makanan minuman yang manis dan terlalu asin. 

Perlu diwaspadai, salah satu kebiasaan anak yang sering diabaikan orang tua adalah asupan gula. Sebenarnya bukan gula dalam bentuk utuh tapi gula yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi seperti coklat, kue, snack belum lagi jika yang diberinya susu kental manis. Ga heran kalau anak jadi kenyang. Padahal kenyangnya itu palsu, kenyang karena kebanyakan gula itu bikin cepat lapar lagi. 

Menurut dr. Moretta Damayanti Sp(AK) gula dapat menyebabkan anak jadi cepat kenyang dan efek lanjutannya tumbuh kembangnya terhambat apalagi kalau anak mengkonsumsi kental manis dan ga mau makan apa-apa. Anak bisa kekurangan gizi. Sedangkan kalau kebanyakan minum susu kental manis juga bisa menyebabkan obesitas, apalagi ditambah ngemil snack junk food. 

So, betul sekali susu adalah minuman terbaik untuk kesehatan. Akan tetapi susu yang bagaimana yang layak diberikan untuk anak? Kalau susu kental manis jelas bukan untuk konsumsi anak balita. Inilah yang perlu diluruskan. 

Sedangkan di sekolah, guru dapat mengenalkan aneka jenis tumbuhan, mana yang dapat dimasak mana yang dapat dimakan langsung, manfaatnya apa untuk kesehatan dan lain sebagainya. Di sekolah anak juga dibiasakan mencuci tangan sebelum makan, berdoa dan makan dengan tertib di meja. 

Menjadi tugas orang tua dan gurulah untuk mengajarkan apa yang harus dimakan dan apa yang harus dihindari. Konsep makan yang baik itu adalah bukan sekedar kenyang, tapi asupan gizinya harus seimbang ada lemak dan proteinnya. Kalau ga bisa memberikan susu lebih baik ganti dengan protein seperti telur daripada memberikan susu kental manis. 

Yang perlu disadari semua pihak, dalam rangka mewujudkan generasi unggul di masa depan tidak bisa mengandalkan dari pihak pemerintah ataupun pihak sekolah. Justru di lingkungan terdekatlah yaitu keluarga maka peran pendidikan keluarga menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan. Anak akan berhasil di sekolah jika mendapat dukungan penuh di lingkungan keluarganya. Ayo ambil bagian, mari putuskan angka stunting dengan perbaikan gizi dimulai dari rumah. 

No comments