Bulan Ayu, Dyslexia dan Kegelisahannya

Bulan Ayu, siapa dia? Namanya cantik, ya? Betul sekali teman-teman. Selain namanya, dia juga punya paras yang cantik dan hati yang cantik pula. Bulan, demikian saya menyapanya, getol memancarkan semangat bahwa Dyslexia bukanlah sebuah aib. Dia juga punya segudang mimpi agar anak-anak Dyslexia dapat menjadi seorang genius. Mau tau kisah perjalanannya Bulan Ayu Dyslexia



Bagi Bulan Ayu, mengenal dan mendalami dunia #dyslexia adalah kegiatan yang menyenangkan dan menjadi kecintaannya. Sejak kecil, tidak ada yang menyadari kalau Bulan Ayu dyslexia. Yang ia ingat, ia kerap dicap bodoh dan malas. 

Saat menceritakan masa kecilnya, air mata saya ikut menderas. Saat itu, tuntutan 'harus bisa' dari orang tua dan guru menjadi momok. Hinaan dari teman-temannya pun membuat dirinya frustasi. "Kata siapa saya ngga ingin seperti teman-teman? Saya ingin pintar. Saya sudah belajar dengan giat. Saya ingin nilai-nilai saya bagus. Tapi kenapa setiap ujian seketika itu juga saya blank?"

Dalam Zoom meeting yang digelar pada 11 Oktober lalu, #Bulan Ayu menceritakan kisah hidupnya dari tempatnya berada di Kuala Lumpur, Malaysia.  Ia bersyukur mengenal sosok Jalden, lelaki berkewarganegaraan Malaysia yang kemudian menjadi suaminya. Dari lelaki inilah akhirnya dia tau kalau Bulan Ayu dyslexia. 


Ia mengenang, sejak jaman pacaran, Jalden sama sekali ga pernah menyinggung mengenai ciri-ciri anak dyslexia yang terlihat pada dirinya. Padahal Jalden adalah seorang pakar dyslexia yang menciptakan "assesment tools" untuk mengenal pasti dyslexia. Ibunya pun, Sariah Amirin diberi gelar ibu dyslexia di Malaysia seorang spesialis dyslexia dan menjadi Presiden Persatuan Dyslexia Malaysia. 

Namun setelah menikah, pelan-pelan Jaiden memberitahukan kepada Bulan Ayu sambil mengingatkan apa saja ciri-ciri dyslexia yang dia temukan saat berinteraksi dengannya. Mulai dari susah mengeja kata - padahal kalau ngomong lancar tapi susah sekali dalam menyampaikannya secara tertulis, susah menghitung kalau sudah ketemu soal matematika yang njlimet. 

Selain itu Jalden juga melihat kalau Bulan Ayu ga suka membaca kalimat panjang, sehingga membuatnya sering salah memahami teks, salah menangkap omongan (tulalit?) ditambah lagi mbak Bulan juga gampang lupa. Wes lengkap sudah! Itulah yang sering bikin mereka sering berantem kecil-kecilan. 




Sambil bercanda, Bulan Ayu mengakui kalau dia memang pelupa. Bukan hanya susah mengingat nama orang, dia pun susah mengingat nomor telepon.  Alhamdulillah kalau nama suaminya ga lupa koq hehehee... 

Namun Jalden menguatkan Bulan Ayu. Tidak semua anak dyslexia bodoh. Meskipun presentasenya kecil namun orang dengan dyslexia ada yang sukses, koq. Bulan sendiri adalah contoh orang yang sukses di bidang akademiknya. Perlu teman-teman ketahui, saking gilanya belajar Bulan menyandang gelar tiga sarjana yaitu SE., SH., dan MH. 

Ssst... saking penasaran, saya segera mencari di Google. Taraaaa, betul sekali. Siapa sangka Dedy Corbuzier, Tom Cruise, Steven Spilberg merupakan orang dengan dyslexia yang sukses, gaesss!!!   

Sejak saat itulah, Bulan Ayu memiliki ketertarikan pada dunia dyslexia. Beruntungnya dia ada dalam circle yang memakari dyslexia sehingga ia mendalami ilmu dyslexia dari orang yang tepat yaitu dua orang yang dicintainya ; suami dan ibu mertuanya. 

Singkat kata, Bulan Ayu menekuni bidang dyslexia selama kurang lebih 11 tahun. Awalnya dia hanya mengikuti program yang sudah dibuat ibu mertuanya bagaimana men-tacle siswa. Di situlah ia belajar mengenali 'mood' siswanya juga melatih kesabarannya. Karena dia tahu betul bagaimana dirinya waktu kecil dulu yang mengalami kesulitan saat belajar. Pelan tapi pasti, ia memahami masalah-masalah yang siswanya hadapi sehingga ia menemukan metode yang pas agar siswa-siswanya dapat menemukan jatidirinya dan dapat berprestasi. 

"Anak-anak dyslexia membingungkan. Dia kelihatan cerdik dan berkemampuan, segar dan berminat, mempunyai kemahiran lisan yang baik tapi kemahiran membaca dan menulis lemah daripada apa yang diprediksikan. Dia senang dianggap tidak fokus/perhatian, melamun, malas atau bodoh," ungkap Bulan dengan dialek campuran Indonesia Malaysia. 

Mengenali Berbagai Gangguan Belajar pada Anak

Saat ini Bulan menjadi seorang Program Director di #DyslexiaGeniusSdnBhdMalaysia. Ini merupakan sebuah pusat terapi pembelajaran untuk pelajar yang memiliki kesukaran belajar terutama dyslexia, dyscalculia, dysphasia, dyspraxia, dysgraphia, visual in perception, auditory, focusing dalam pembelajaran dan memori jangka pendek dalam belajar. 

Bingung kan? Oke baiklah. Seperti tadi saya jelaskan, dysleksia merupakan salah satu permasalahan gangguan belajar pada anak. Gangguan belajar ini meliputi : 

1. Dysleksia. Ini adalah kesulitan membaca yang mengakibatkan anak sulit untuk menulis. Gangguan ini juga dapat mempengaruhi kemampuannya dalam mengeja dan berbicara. 

2. Dysgrafia. Ini adalah ketidakmampuan belajar yang mempengaruhi kemampuan untuk menulis atau mengenali bentuk tulisan. Contohnya huruf 'b' perutnya menghadap ke depan kalau huruf 'd' perutnya menghadap ke belakang. 

3. Dysphasia. Ini adalah gangguan yang menyebabkan keterlambatan bicara pada anak. 

4. Dyspraxia. Ini merupakan gangguan koordinasi dan pergerakan. Tandanya terlihat pada anak yang tampak kikuk, ceroboh, sering terbentur meja atau menjatuhkan barang dan terlihat malas karena lamban setiap mengerjakan suatu perintah. 

3. Dyscalculia. Ini adalah ketidakmampuan memecahkan permasalahan matematika. Konsep bilangan dasar pun terasa sulit dipahami bagi anak dengan masalah ini. 

Penyebab gangguan belajar tersebut belum diketahui persis. Namun, diduga, kondisi ini terjadi akibat adanya gangguan perkembangan sistem saraf di otak dan adanya faktor genetik. Maka, ga heran kalau Dedy Corbuzier dan anaknya Azka adalah penyandang dysleksia. Dan Bulan Ayu Dyslexia juga mengalaminya. Buah hatinya yang paling besar nyatanya dideteksi mengalami Dyscalculia. 

Ah iya, anak saya juga sama nih. Ga bisa-bisa baca tulis, nih. Heloo, teman-teman, gini ya. Penegakan diagnosa gangguan belajar harus ditentukan oleh dokter setelah melewati screening dan tanya jawab. Baru setelah itu ditentukan terapi yang tepat oleh profesional bidang dyslexia. Jadi ga serta merta, ya, bila kita para orang tua menemukan tanda-tanda di atas langsung mengecap anak dyslexia, misalnya. 

#BulanAyuDyslexia menyadari, jika dibiarkan tanpa penanganan dyslexia dapat mengganggu kehidupan sosialnya. Karena apa, setiap saat menerima tekanan dari lingkungannya dapat membuat seorang anak dysleksia merasa rendah diri. Keleletannya dalam belajar juga berdampak pada kebiasaan yang membuatnya gampang panik dan jadi menarik diri dari lingkungannya. Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus sampai penyandang dyslexia di usia dewasa, kan?

SPTBid Program

Sebagai salah satu sekolah yang berfokus menangani dyslexia di Malaysia, Dyslexia Genius Sdn Bhd Malaysia telah merancang kurikulum yang dikenal dengan #SPTBidProgram, singkatan dari Sariah Program & Teknik Bimbingan Intensif Dyslexia. Program ini dibuat oleh ibu mertua Bulan Ayu, Sariah binti Amirin seorang pakar dan spesialis dyslexia yang terkenal di Malaysia dengan julukannya "ibu Dyslexia". 

SPTBid Program dibuat tidak dalam waktu instan, teman-teman. Kurang lebih sekitar tahun 1996-1997. Sebelum akhirnya diluncurkan program ini telah melalui berbagai riset dan testing secara intensif. Karena hasilnya yang memuaskan, Persatuan Dyslexia Malaysia pun ikut menggunakan program ini selama lebih dari 23 tahun. Makanya, ga heran, ya, kalau program ini mendapat pengakuan dari Ministry of Education Malaysia. 



Jujur saya tertarik sekali membayangkan metode pengajaran melalui SPTIBid program ini di Dyslexia Genius Sdn Bhd. Setiap siswa diajak belajar dengan cara yang menarik dimana murid-murid akan dibagi per kelompok kecil, 5 - 6 orang dan disesuaikan dengan levelnya. Beginner, Intermediate dan advance. 

Dan setiap siswa juga akan mendapatkan MyLexic. Ini merupakan 10 set modul dan software yang dirancang dan dibuat juga oleh Sariah Amirin. FYI, MyLexic ini juga telah mendapatkan anugrah di Diplome Salon International Des Inventions GENEVE 2007, sebuah ajang yang memamerkan inovasi-inovasi tingkat dunia.  

Meskipun tidak dapat disembuhkan, tetapi deteksi dan penanganan sejak dini terbukti efektif meningkatkan kemampuan penyandang dyslexia. Alih-alih bersekolah seperti anak normal lainnya, mereka pun bahkan bisa berprestasi dan sukses.  

Terlebih Dyslexia Genius Sdn Bhd mampu mewujudkannya. Dengan kurikulum yang paten, guru-guru yang mumpuni dan para profesional bidang dyslexia yang terlibat di dalamnya, bisa kita lihat berbagai prestasi yang telah terukir di websitenya Bulan Ayu

Nah, jadi kalau teman-teman frustasi karena anaknya ada yang ga bisa-bisa baca. Plis jangan dimarahi, ya. Melepaskannya ke berbagai bimbingan belajar juga belum tentu ada efeknya. Ada baiknya segera konsultasikan ke dokter untuk menentukan diagnosa tidaknya. Jika benar, jangan panik. Dokter akan mengarahkan terapi yang tepat di beberapa tempat terapi di Indonesia. 



Namun sayangnya, terapi dyslexia itu lumayan besar biayanya, ya. Namun sekali lagi, jangan kuatir. Teman-teman bisa menggunakan program SPTBid ini. Untuk info lebih lanjut silakan berkonsultasi langsung dengan Bulan Ayu ya melalui web konsultasi gratis. 



Cita-cita Bulan sederhana. Ia tidak ingin masa kanak-kanaknya yang getir dialami anak-anak jaman sekarang. Ia berharap, setiap anak dyslexia dapat berprestasi di sekolah umum dan sukses menjadi penerus bangsa yang sempurna.  

Untuk itu ia bertekad untuk terus memberi awareness kepada seluruh dunia. Saat ini, bersama timnya, ia telah berkeliling Malaysia melakukan asessment dan melatih terapi anak Dyslexia untuk mengatasi keterbatasannya. Ia juga bercita-cita, di tanah kelahirannya, Indonesia, pemahaman masyarakat mengenai dyslexia semakin bertambah dan berkembang. Sehingga, apa yang ia alami dulu tidak terulang lagi. 



Jujur, tenggorokan saya begitu kelu membayangkan jerih payah Bulan Ayu untuk memberikan awareness mengenai dyslexia. Berbagai acara dia buat tanpa memikirkan keuntungan. Tanpa dibayarpun ia tetap enjoy dan ikhlas menjalani kesehariannya. Bahkan ia pernah mengundang 100 guru di Indonesia berkunjung ke Malaysia untuk ditraining cara penanganan dyslexia. Sehingga, someday, kalau sang guru menemukan salah satu muridnya ada yang didiagnosa dyslexia dapat segera diberi pengajaran yang tepat.

Ahh, Bulan Ayu. Sampai paragraf terakhir tulisan saya ini, hati dan pikiran saya masih ga bisa move on dari sosok Bulan Ayu Dyslexia. Saya membayangkan anak-anak Dyslexia di Indonesia dapat bertumbuh menjadi manusia unggul di masa depannya nanti. Semoga Allah mudahkan dan langkah Bulan Ayu juga semakin dilancarkan, aamiin.




Setiap bulan Oktober, negara-negara di berbagai belahan dunia mengadakan aksi secara serentak untuk memperingati hari dyslexia. Untuk itu dalam rangka #BulanBaktiDyslexia Bulan Ayu kembali mengadakan Webinar Pendidikan Bulan Ayu Dyslexia pada 23 Oktober 2021. Gratis pula. Simak yuk! 

Info lebih lanjut cek :

website : www.bulanayudyslexia.com 

instagram : www.instagram.com/bulanayu_dyslexia

16 comments

  1. Noted. Ini catatan tersendiri buat saya. Membaca tumbuh kembang anak itu memang perlu kecermatan. MasyaAllah, salah satu terapi-nya berkuda. Berkuda adalah salah satu olahraga yang dianjurkan dalam Islam. MasyaAllah

    ReplyDelete
  2. Betul sekali. Anakku didiagnosis disleksia karena jarak antara IQ performance dan potensialnya terlalu jauh. Juga beberapa tes lain terkait visual, auditorial, sensorik, memori dll. Enggak mudah jadi anak disleksia, tetapi bukan berarti enggak bisa jadi yang terbaik.

    ReplyDelete
  3. Ya allah mulia sekali niatannya mbak Bulan Ayu ini.. memang anak2 dg kasus special msh menjadi momok di masyarakat kita. Menganggap sebelah mata.aku pun br tahu ada dis dis dis lainnya, seperti discalculia, dispraxia, disphasia, dan disgraphia.

    ReplyDelete
  4. Baca keterangan soal Dyscalculia aku kebayang diriku sendiri yang sangat benci soal hitung menghitung.
    termasuk ngga ya? 😁😁

    ReplyDelete
  5. Kebayang banget ya masa kecilnya, apalagi ortu zaman dulu tuh bener-bener bisa nggak bisa harus bisa, saya pun juga dituntut demikian, sampai akhirnya saya merasa, sekarang tuh otak saya udah aus, hahaha.

    Btw keren ya Mbak Bulan ini, memperjuangkan bahwa Dislexia itu bukanlah sebuah aib yang mana memang kadang dinilai orang awam sebagai tulalit atau semacamnya huhuhu

    ReplyDelete
  6. Masya Allah, namanya cuantiiiiik. Indonesia banget. Bulan Ayu.

    Bulan Ayu ini orang kesekian yang dyslexia, tapi pas dewasa jadi orang suksesss. Indonesia contohnya Deddy Corbuzier.

    Budaya orang kita tuh ya, kalo anak terlambat dikit tumbuh kembangnya, langsung di-judge dengan sadissss.

    Pengalamannya gak kaleng-kaleng ya, 11 tahun menekuni bidang dyslexia. Beliau ini bisa jadi sumber informasi utama dan rujukan para orang tua dengan anak istimewa yang mengalami dyslexia.

    ReplyDelete
  7. baru tau ada hari hari dyslexia.

    Namun sangat bagus, agar semakin banyak yang tau tentang dyslexia dan hanetem kromo men-stigma. Karena saya juga punya teman dyslexia dan sukses, lulus dari ITB trus bekerja seperti yang lain

    ReplyDelete
  8. Wah, aku bisa membayangkan perasaan mbak Bulan Ayu yang tertekan kehidupan sosialnya karena dyslexia. Temenku juga ada anaknya yang susah membaca huruf, kayak melayang katanya. Tapi banyak loh penemu dan orang-orang hebat yang sebetulnya dyslexia

    ReplyDelete
  9. Kenali, dan pahami dulu berarti ya, yang memungkinkan Dyslexia terjadi pada seseorang. Sehingga tidak buru-buru memarahi atau kesal kalau misalnya gak bisa menulis dengan optimal

    ReplyDelete
  10. Aku masih sering dengar anak dengan dyseleksia masih kerap tersisihkan yg bahkan di cap "bodoh"
    Jika orang tua memahami konsep parenting penganjarannya secara tepat
    Tentu bukan tidak mungkin menjadikan anak dgn dyseleksia berprestasi

    ReplyDelete
  11. wah cerita dari bulan ayu ini sangat inspiratif ya mbak
    bisa ya akhirnya ketemu jodoh yg kemudian bersama sama berkecimpung di dunia disleksia

    ReplyDelete
  12. Bener, Mba. Kasihan kadang anak yang ngalamin disleksia kalau ortu dan lingkungannya engga paham kondisi anak. Saya kenal seseorang yang ngalamin disleksia tapi dia sekarang bisa keluar dari zonanya dan jadi penulis juga. Pastilah setiap orang punya kelebihan dan bisa dioptimalkan passionnya

    ReplyDelete
  13. Wahh ciamik bener ini mba Bulan Ayu
    Bisa membuka mata dan mengedukasi banyak pihak seputar disleksia niiih
    makasii review-nyaaa

    ReplyDelete
  14. Pengetahuan baru dan berarti bagi saya bisa membaca tulisan ini

    ReplyDelete
  15. Banyak ya ternyata tanda-tanda dyslexia itu ya. Gak hanya sekedar kesulitan dalam membaca. Menelaah artikel ini jadi tahu lebih banyak tentang dyslexia ini plus beberapa gangguan kemampuan lainnya. Bener-bener jadi nambah pengetahuan.

    ReplyDelete
  16. Sekarang pun masih ada menemukan anak-anak sudah kelas 4 SD belum bisa membaca dan tentunya tidak bisa menjudge atas keterlambatannya memahami bacaan. Hmm ternyata sampai sudah dewasa pun banyak juga yang baru menyadari bahwa menyintas dyslexia ini ya tapi pastinya bukan berarti tidak bisa sukses ya. Buktinya banyak artis juga yang sukses meskipun dyslexia juga.

    ReplyDelete